Cerita dari Bobby Rio Indriyantho


Halo, Guten Tag! Nama saya Bobby Rio Indriyantho, alumni Teknik Sipil Universitas Diponegoro angkatan 2009. Saya lulus S1 Teknik Sipil tahun 2013 dan lulus S2 Magister Teknik Sipil tahun 2014 melalui jalur fast track (angkatan pertama) dengan beasiswa Dikti. Menempuh kuliah di UNDIP memberikan kesan tersendiri untuk saya, baik kegiatan akademik maupun non-akademik seperti berorganisasi, pengalaman mengajar, maupun dunia kerja. Menjadi seorang mahasiswa memang identik dengan perkuliahan di kampus, tetapi kegiatan pengembangan soft skill pun perlu diasah semenjak duduk di bangku kuliah. Berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) dan menjadi asisten mahasiswa di beberapa mata kuliah seperti Menggambar Struktur Bangunan, Teknologi Bahan Bangunan, Mekanika Bahan, Rekayasa Pondasi, dan Struktur Beton Bertulang pun memberikan pengalaman tersendiri bagi saya. Selain itu, saya juga pernah bekerja sebagai asisten Laboratorium Bahan dan Konstruksi serta structural analyst berbagai macam proyek bangunan selama kurang lebih 2,5 tahun antara tahun 2012 – 2015. Di sela-sela pekerjaan tersebut, saya juga membantu Prof. Han Ay Lie sebagai asisten dosen dalam mengajar mata kuliah Teknologi Bahan Bangunan dan Mekanika Bahan. Lima tahun menempuh kuliah di UNDIP pun terasa lengkap karena ilmu yang diperoleh tidak hanya dari bangku perkuliahan, tetapi juga dengan berorganisasi, dan bersosialisasi sambil bekerja.

Salah satu bagian kampus TU Dresden

Cita-cita menuntut ilmu di Jerman pun akhirnya terwujud sejak saya mengambil program Doktor di Institut für Statik und Dynamik der Tragwerke (Institut for Structural Analysis), Technische Universität Dresden (TU Dresden) di bawah bimbingan Prof. Dr.-Ing. Michael Kaliske mulai tahun 2015 sampai sekarang. Saya mengambil fokus penelitian dengan topik crack prediction secara numerik pada material beton maupun beton bertulang menggunakan finite element analysis dan material modelling berbasis continuum mechanics. Berkuliah di Jerman dituntut untuk mandiri, tidak ada perkuliahan, dan langsung dimulai dengan penelitian atau riset sesuai dengan topik. Namun, terkadang Doktorvater (pembimbing/supervisor) akan menyarankan kita untuk mengambil mata kuliah yang kiranya berguna sebagai dasar kita melakukan penelitian lebih lanjut. Research funding dari institut diberikan hanya pada enam bulan pertama. Setelah itu, saya mendapatkan beasiswa Sächsisches Landesstipendium dari pemerintah Jerman bagian Saxony (Sachsen) untuk tiga tahun ke depan.

Welcoming tour mahasiswa PhD, Postdoc, dan visiting young reseacher TU Dresden dari berbagai belahan dunia

Atmosfer riset di sini sangatlah berbeda dengan Indonesia. Dana riset yang melimpah menjadikan Jerman sebagai negara riset yang sangat diakui di dunia. Riset atau penelitian di Jerman sangat didukung oleh industri-industri dan lembaga-lembaga penelitian yang sesuai dengan bidang keilmuan, sehingga tidak heran jika dana penelitian kampus yang sangat besar tersebut tidak bergantung kepada pemerintah. Deutsche Forschungsgemeinschaft (DFG) atau German Research Foundation merupakan lembaga penelitian terbesar di Jerman yang sering bekerja sama dengan universitas, di samping lembaga-lembaga penelitian terkemuka seperti Max Planck Institute, Leibniz Institute, Helmholtz, dan Fraunhofer.

Profesor, staff serta kolega Institut für Statik und Dynamik der Tragwerke, TU Dresden

Institut tempat saya menempuh ilmu ini hanya terfokus pada penelitian secara numerik, seperti pengembangan model material terkini, analisis struktur dalam kasus statik dan dinamik, serta optimasi terhadap aspek engineering. Jadi institut saya bekerja sama dengan institut lain untuk bagian eksperimen laboratorium. Tidak hanya bidang civil and structural engineering, bidang lain seperti biomedical engineering, tire and soil interaction pun bisa dilakukan di institute saya, meskipun masuk ke dalam faculty of civil engineering.

Baustatik-Seminar dengan para praktisi dan akademisi

Menempuh pendidikan di Jerman bukan hanya sekedar di lingkungan kampus, bersosialisasi dengan warga Indonesia yang berdomisili di Dresden pun mutlak harus dilakukan untuk melepas rindu dengan kampung halaman. Forum Masyarakat Indonesia di Dresden (FORMID) merupakan wadah bagi mahasiswa bachelor, master, PhD, Postdoc, sampai dengan orang-orang yang sedang bekerja sambil membawa serta keluarga mereka dan hidup di kota Dresden. Saya sempat diberi amanah sebagai Ketua FORMID tahun 2016/2017. Di forum tersebut, saya berkenalan dengan berbagai latar belakang orang Indonesia yang tinggal di Dresden. Selain itu, saya bekerja sama pula dengan pemerintah kota Dresden dan TU Dresden untuk mengadakan berbagai acara pendidikan dan kebudayaan.

Acara Straßenfest atau festival jalanan bekerja sama dengan pemerintah kota Dresden

Saman Dance performance di Semperoper (gedung opera Dresden)

Penampilan angklung di acara Malam Indonesia yang dihadiri orang Indonesia dan Jerman

Syuting acara Muslim Traveler NET TV di Bastei, Saxon Switzerland

Pertemuan IKA UNDIP Cabang Jerman bersama dengan Duta Besar Indonesia untuk Jerman di Berlin

Suka duka hidup di Jerman pun akan terasa lengkap jika kita saling berbagi cerita dan pengalaman dengan orang-orang Indonesia yang juga memiliki kehidupan yang hampir serupa dengan kita. Dengan demikian, kita akan dapat saling tolong-menolong dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu permasalahan di negeri yang terkenal tepat waktu. Ya, orang Jerman sangat peduli dengan waktu, tidak ada istilah jam karet. Mereka selalu membuat janji atau termin dan akan datang paling lambat 10 menit sebelum waktunya. Seperti kata orang Jerman, „Wer nicht kommt zur rechten Zeit, der muss nehmen, was übrig bleibt“.

Dresden, 2 November 2018